Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA


DOI:
https://doi.org/10.37063/jurnalantarakeperawatan.v1i1.9Keywords:
Ispa, Pengetahuan, Pendapatan Keluarga, Status ImunisasiAbstract
Di Indonesia Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) selalu menepati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak dirumah sakit. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2013 menepatkan ISPA sebagai penyebab kematian bayi terbesar di indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh kematian balita. Untuk mengetahui Faktor-Faktor yang berhubungan dengan kejadian ispa pada balita di poli umum puskesmas malaka jaya jakarta timur. Metode penelitian menggunakan studi analitik dengan pendekatan cross sectional, metode total samplingadapun variabel dependent dan variabel independen di dapat dari data primer yang dikumpulkan dalam waktu satu bulan di poli umum Puskesmas Malaka Jaya. Hasil Penelitian: Terdapat adanya hubungan antara pengetahuan ibu, pendapatan keluarga, status imunisasi dengan kejadian ISPA. Dengan hasil p value kurang 0,05. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa ada hubungan dengan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA di Puskesmas Malaka Jaya, dengan hasil Uji-Chis quare didapatkan p-value <0,05. Penelitian selanjutnya khususnya tentang ISPA pada balita dapat mengembangkan penelitian dengan variable yang lebih bervariasi, metode dan analisa data serta uji statistic yang berbeda.
References
Anomi, (2013) Faktor Risiko Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut Pada Balita: 2013
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan R.I.Penggunaan Tembakau. Riset Kesehatan Dasar, Riskesdes (2010). Jakarta: s.n, 2010. Hal.404, 416.
Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Pemukiman Departemen Kesehatan RI. Program Pemberantasan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) untuk penanggulangan pada Balita. 2. Jakarta: 2013, hal 15-26
Depkes RI. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Jakarta: Depkes, 3013.
Dinas Kesehatan Kapubaten Bekasi ProfilKesehatan Kabupaten Bekasi T:2010. 3. Bekasi: s.n., 2011
Dona, W. (2010). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: 2013
Fatah,(2014).Hubungan Kondisi Kesehatan Lingkungan Pempndokan DenganKejadian ISPA di Pondok Pesantren Sabilal Muhtadin Desa Jaya Karet Kecamatan Mentaya Hilir Selatan Provinsi Kalimantan Tengah.Skripsi S1, Universitas Negeri Semarang
Junaidi, 2011. Penyebab ISPA pada balita dan etiologi, Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Katrina, (2013). Mengenal Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Penanggulangannya. Jakarata: 2013
Misnadiarly, 2014 Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada balita, Jakarta: Pustaka Obor Populer.
Nastiti. (2013) Penangan ISPA padaAnak di rumah Sakit Kecil di Negara Berkembang: Pedoman Untuk Dokterdan Petugas Kesehatan Senior. [penyunt.] dr. Natalia Susi. [penerj] dr. Anton C. Wdjaja 1. s.I, Penerbit Kedokteran EGC: 2013
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metedologi Penelitian Kesehatan Rev. Jakarta: Rineka Cipta
Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat DepkesRi. Hindarkan Anak Ibu dari Bahaya Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).Jakarta: s.n., 2013.Widiyono 2013 Currnet cat ownership may be associated with the lowerprevalence of otapic dermatitis, allergic rhinitis, and Japanese cedarpollinosis in schoolchildren. 17. 2013. Hal 22-28
Tahun DR, Omega 2017 Statistik untuk ilmu kesehatanTeori Dan Aplikasi SPSS. Yogyakarta Wahana Revolusi.
Undang Undang Gebernur Tahun 2008.Tentang UMP DKI Jakarata Yusri, 2014.Pencegahan ISPA pada balita, Diaksespada 2 januari.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2020 Jurnal Antara Keperawatan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.